Art Original
Tambelo (Kembalinya si burung camar)
Bagaimana rasanya menjadi orang. terasing di sebuah suku di pesisir Papua? Roni merasakannya setelah kapal yang ditumpanginya pecah dihantam pohon. Lingkungan dan penduduk yang masih alami dan sederhana itu ternyata memberinya pelajaran banyak hal, Di antaranya tentang arti sebuah kejujuran yang sudah menjadi barang langka di kota-kota besar.
Keterasingan yang membuatnya harus berbagi ilmu yang sedikit untuk menjadi guru bagi anak-anak suku Kamoro yang lama ditinggalkan para gurunya. Anak-anak yang polos itu juga memberikan pelajaran baginya tentang perbedaan pengajaran yang telah diterimanya dulu, di Jawa, selain pengenalan kekayaan hutan yang mencengangkan.
Sebuah cerita yang lugas, diseling senyum simpul, tawa, juga tangis. Namun di balik semua itu, buku ini membawa kita berwisata ke kekayaan budaya Nusantara berlatar suku Kamoro di Papua. Buku dwilogi kedua ini merupakan lanjutan dwilogi pertama yang berjudul Meniti Hari di Ottakwa yang akan membuka tabir awal mula petualangan Roni.
| P221225099S | 813 Red T | My Library (800) | Tersedia |
| P221225100S | 813 Red T | My Library (800) | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain